Maduro Akui Delusi Sosialis Demi Mengembalikan Ekonomi Pasar Bebas Venezuela

Maduro Akui Delusi Sosialis – Upaya Presiden Venezuela Nicolas Maduro untuk mengembalikan elemen-elemen ekonomi pasar bebas (free enterprise) di Venezuela harus menjadi peringatan bagi siapa pun yang mendengarkan seruan sosialis Senator Bernie Sanders di pemilihan pendahuluan Partai Demokrat selama kampanye Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2020 atau siapa pun yang masih tergoda oleh janji-janji kesejahteraan ala sosialisme.

Langkah yang diambil Maduro ini dianggap sebagai upaya putus asa untuk meredam kemarahan publik. Dengan begitu , Maduro berharap dapat mempertahankan cengkeramannya pada kekuasaan di tengah keruntuhan ekonomi yang mengejutkan yang dipandang para ekonom sebagai yang terburuk di dunia dalam beberapa dasawarsa.

Maduro Akui Delusi Sosialis

Kisah Sosialis Venezeula seperti ini bukan pertama kali yang pernah terjadi dalam sejarah. Sebelumnya , negara-negara sosialis di seluruh dunia telah membatalkan visi yang mereka doktrinkan dan memasukkan unsur-unsur ekonomi pasar bebas untuk menyelamatkan ekonomi mereka yang terpuruk. Yang paling mengejutkan adalah China pasca-Mao Zedong memilih ekonomi yang lebih berbasis pasar ketika Deng Xiaoping mengakui bahwa bangsanya tidak bisa bersaing dengan Amerika Serikat.

Tunduknya Maduro terhadap kenyataan sangatlah instruktif. Hal itu terjadi satu dekade setelah Resesi Hebat dan keruntuhan keuangan pada 2008 dan 2009 mengguncang kepercayaan terhadap kapitalisme dan menguatkan para pendukung sosialisme dan model-model alternatif lainnya.

Setelah krisis itu berakhir , kapitalisme kembali membuktikan https://www.austineubanks.com/ keberaniannya dengan mempertahankan lebih banyak kesejahteraan dan standar hidup yang lebih tinggi , sementara perekonomian Venezuela kala itu semakin memburuk dan sangat mengkhawatirkan.

“Perjuangan untuk bertahan hidup telah memaksa pemerintah Venezuela untuk bersikap pragmatis,” tutur Ramiro Molina, ekonom di Universitas Katolik Andres Bello Caracas, kepada The New York Times. “Hanya narasinya yang masih sosialis.”

Lawrence J. Haas mengatakan bahwa langkah ini adalah pergeseran yang mencolok bagi Maduro karena ia adalah penerus mantan Presiden Venezuela Hugo Chavez yang berpikiran sama, sosialis garis keras yang berusaha menyalakan semangat “revolusi Bolivarian” di seluruh kawasan hingga kematiannya pada 2013.

Chavez terpilih pada tahun 1998 karena gelombang penolakan publik terhadap korupsi pemerintah. Chavez mampu dengan cepat menasionalisasi industri, merampas pertanian dan bisnis, mendorong perubahan konstitusi untuk meningkatkan kekuatannya.

Walaupun awalnya ia menggalang dukungan populis dengan menggunakan pendapatan minyak untuk mendanai program-program bagi kaum miskin, visi sosialis yang mendorong kesalahannya dalam mengurus ekonomi telah menyebabkan melonjaknya inflasi, meledaknya utang publik, dan kekurangan kebutuhan seperti makanan, obat-obatan, air, dan listrik. Setelah Chavez meninggal , Maduro mengambil alih dan kini mencoba untuk menggandakan visi sosialis itu dan memperburuk masalah ekonomi.

Setelah bertahun-tahun menasionalisasi bisnis dan menetapkan harga konsumen, Maduro kini berubah arah sambil mempertahankan retorika sosialisnya. Demi meningkatkan aktivitas bisnis di Venezeula , ia erupaya memotong birokrasi. Dengan mata uang bolivar pada dasarnya tidak berharga, Maduro menyambut arus masuk dolar Amerika kembali ke dalam pasar mata uang.

Langkah Maduro menuju ekonomi pasar bebas telah menimbulkan pengaruh berupa menstabilkan ekspor minyak, menghidupkan kembali ibu kota Venezuela, Caracas, dan memberi peluang baru bagi kelas atas negara itu untuk menimbun dan membelanjakan uang. Namun hal ini dianggap masih belum cukup untuk bisa mempertahankan kekuasaannya.